Pendidikan
Beranda » Berita » SD Inpres Omlyom Gelar Ujian Sekolah di Tengah Keterbatasan Fasilitas

SD Inpres Omlyom Gelar Ujian Sekolah di Tengah Keterbatasan Fasilitas

 

PAPUAWONE.COM, PEGUBIN — Sekolah Dasar atau SD Inpres Omlyom di Kampung Omlyom, Distrik Okbab, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, tetap melaksanakan ujian nasional berbasis sekolah meskipun menghadapi berbagai keterbatasan sarana dan prasarana.

Kepala SD Inpres Omlyom, Menius Kasipka, S.Pd mengatakan pelaksanaan ujian pada 5 Mei 2026 berjalan aman dan lancar dengan dukungan masyarakat setempat.

“Hari ini kami membuka ujian nasional berbasis sekolah. Meskipun banyak kekurangan, kegiatan tetap berjalan dengan baik,” ujarnya.

Menurut Kasipka, sekolah yang telah berdiri sekitar 10 tahun itu masih mengalami berbagai kendala, terutama keterbatasan fasilitas dasar. Ia menyebutkan, hingga kini sekolah hanya memiliki tiga ruang kelas bantuan dari pemerintah daerah sejak 2016.

Bupati Lanny Jaya Lantik Kadis Pendidikan, DPR Harap Pendidikan Lebih Maju 

“Kami masih kekurangan gedung sekolah, kantor, perpustakaan, serta fasilitas WC untuk guru dan murid. Semua itu belum tersedia secara memadai,” katanya.

Ia berharap pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, serta Kementerian Pendidikan dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi tersebut.

“Kami mohon dukungan pemerintah untuk melihat langsung kekurangan yang kami alami, agar proses pendidikan di sini bisa berjalan lebih baik,” ujarnya.

Kasipka menambahkan, meskipun berada di tengah situasi konflik di wilayah sekitar, aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut tetap berlangsung aman. Ia menyebut dukungan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan. Pada tahun ajaran 2026, sebanyak 13 siswa mengikuti ujian di SD Inpres Omlyom.

“Sekolah tetap berjalan dengan aman karena dukungan keluarga dan masyarakat. Kami akan terus berupaya menjalankan pendidikan meskipun menghadapi berbagai tantangan,” katanya.

Sementara itu, salah satu staf guru, Piteka Mimin, S.Pd menambahkan bahwa keterbatasan fasilitas juga berdampak pada aktivitas tenaga pengajar. Ia menyebut para guru terpaksa menggunakan rumah pribadi kepala sekolah sebagai tempat bekerja karena tidak adanya kantor.

“Kami tidak memiliki kantor dan fasilitas yang memadai. Beberapa kegiatan, termasuk administrasi dan persiapan ujian, dilakukan di rumah kepala sekolah,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa tenaga pengajar di sekolah tersebut terdiri dari empat guru honorer, dengan rincian dua orang lulusan sarjana dan dua lainnya lulusan SMA.

Menurutnya, para guru tetap berkomitmen untuk mengajar demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah pedalaman, meskipun dalam kondisi serba terbatas.

“Kami tetap bertahan dan mengajar demi generasi bangsa, walaupun dengan berbagai kekurangan yang ada,” katanya.

Pihak sekolah kembali berharap pemerintah dapat segera memberikan perhatian terhadap kebutuhan fasilitas pendidikan di daerah tersebut guna menunjang proses belajar mengajar yang lebih layak. (TY)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement